alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Analisis Strategi Prabowo Dirikan Posko di Kampung Halaman Jokowi

Ary Wahyu Wibowo
Analisis Strategi Prabowo Dirikan Posko di Kampung Halaman Jokowi
Joko Santoso Center, salah satu posko pemenangan pasangan Prabowo-Sandi didirikan di dekat kios martabak Markobar milik anak Jokowi di Solo. FOTO/SINDOnews/ARY WAHYU WIBOWO

SOLO - Maraknya posko pemenangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Kota Solo merupakan sebagai strategi kampanye di jantung lawan. Perubahan sikap pemilih di daerah yang selama dikenal sebagai basis loyal pendukung PDIP dan capres Joko Widodo dinilai akan memberikan dampak besar secara nasional.

Pengamat Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Agus Riewanto mengatakan, kubu Prabowo-Sandi yang terlihat ofensif di Kota Solo merupakan strategi kampanye yang sah-sah saja dilakukan. Diperkirakan, salah satu alasannya karena Capres Jokowi merintis karir politik dari Solo. Terlebih saat pemilihan Wali Kota Solo dulu, Jokowi meraup suara hampir 90%.

"Solo juga dianggap sebagai basis kekuatan jantungnya PDIP-Jokowi di Jawa Tengah," kata Agus Riewanto kepada SINDOnews, Selasa (15/1/2019) malam. (Baca juga: Kikis Suara Jokowi di Solo, Joko Santoso Center Berdiri di Sebelah Markobar)



Dengan demikian jika ingin menguasai Jawa Tengah, diprediksi dimulai dari Kota Solo sebagai jantungnya. "Harapannya supaya memberi multi efek secara nasional bahwa publik Solo bisa dipengaruhi dari pemilih loyal PDIP-Jokowi," katanya.

Sebab dalam politik, apapun bisa terjadi karena perkembangannya sangat fluktuatif. Namun demikian, dilihat dari sejarah Kota Solo hal itu sangat berat. Dosen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum (FH) UNS Solo ini menyebut Solo dari dulu sebagai pemilih yang fanatik PDIP dan terkenal dengan sebutan kandang banteng.

"Sehingga mudah diduga referensi politik pemilih tetap ke Jokowi," katanya. (Baca juga: Prabowo-Sandi Dirikan Kantor Pemenangan di Dekat Rumah Jokowi)

Dirinya menduga kubu Prabowo-Sandi memiliki pemikiran bahwa kelompok loyal PDIP-Jokowi usianya 30 tahun ke atas. Sehingga yang dibidik adalah kelompok milenial yang berusia di bawah 30 tahun yang belum menentukan pilihan. Dengan daya tarik Sandiaga Uno yang dianggap representasi kelompok milenial, barang kali pintu masuknya ke arah sana yang siapa tahu bisa mengubah pilihan.

"Dengan asumsi bahwa politik itu fluktuatif, namun belum juga bisa dibuktikan," pungkasnya.



(AMM)