alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Yati Pesek vs Sri Puryono Adu Lucu di Kethoprak Kolosal HUT Klaten

Ahmad Antoni
Yati Pesek vs Sri Puryono Adu Lucu di Kethoprak Kolosal HUT Klaten
Sekda Jateng Sri Puryono dan Yati Pesek tampil dalam pagelaran kethoprak kolosal dalam rangka Hari Jadi ke-215 Kabupaten Klaten. FOTO/IST

klaten - Pagelaran kethoprak kolosal kolaborasi pejabat, pelajar, dan seniman di Alun-alun Kabupaten Klaten, Rabu (31/7/2019) malam hingga Kamis (1/8/2019) dini hari, memukau penonton. Ribuan warga dari berbagai kalangan menyemut di sekitar panggung sejak sore, demi menyaksikan pertunjukan seni budaya Jawa dalam rangka Hari Jadi ke-215 Kabupaten Klaten.

Selain melibatkan seniman dan pelajar, sederet pejabat di lingkungan Setda Klaten mulai asisten, kepala OPD, hingga camat dan Forkopimda setempat turut beradu akting di kethoprak dengan lakon “Sunan Pandanaran Tembayat”. Tidak ketinggalan pula Sekretaris Daerah Jateng Sri Puryono KS dan seniman kethoprak asal Yogyakarya, Yati Pesek tampil menghibur masyarakat Klaten dan sekitarnya.

Pertunjukkan tari yang dibawakan para pelajar, penampilan prajurit yang gagah berani, alur cerita dan tutur bahasa mudah dipahami, dekorasi dan properti panggung yang artistik, serta kostum pemain nan cantik dan unik menjadi magnet, sehingga masyarakat tetap bertahan menyaksikan adegan-demi adegan hingga pagelaran budaya adiluhung itu berakhir. Bahkan angin malam yang menusuk kulit dan semakin larut, seolah tak mampu “mengusir” warga dari area sekitar panggung.



Kethoprak yang mengisahkan perjalanan ritual Sunan Pandanaran II atau Sunan Bayat alias Pangeran Mangkubumi dari Kabupaten Semarang menuju Tembayat, Klaten, dikemas sangat menarik dan atraktif. Alur cerita mengenai sejarah Semarang dan awal penyebaran agama Islam di bumi Jawa dengan tokoh utama Sunan Pandaranan II.

Sepanjang perjalanan menuju Gunung Jabalkat yang berada di Kecamatan Bayat, Pangeran Mangubumi bertemu dengan masyarakat dari berbagai kalangan dan beragam persoalan yang dihadapi. Petuah dan nasihat sang Kiai Ageng yang makamnya berada di Bayat, Kabupaten Klaten tersebut sarat makna kebaikan. Terutama mengenai manusia yang selalu mengejar kekayaan dunia dan melupakan kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Hingga Kamis dini hari, riuh tepuk tangan dan tawa gembira penonton terus menggema di jantung kota Klaten. Suasana semakin semarak ketika Sekda Jateng yang berperan sebagai Haryo Pamekas dari Demak, duet dengan seniman senior Yati Pesek menyanyikan tembang Jawa “Nyidam Sari” di atas panggung. Tepuk tangan dan gelak tawa semakin bergemuruh saat Yati Pesek dengan celetukan-celetukannya mengocok perut penonton.

Yati Pesek yang berperan sebagai ibu dari dua seniman dari komunitas waria, yaitu Apri alias Arif Budi dan Mimin alias Sukimin, dengan gaya menari mereka yang energik dan menarik, mampu mengusir rasa kantuk penonton. Banyolan-banyolan Yati Pesek, Apri, dan Mimin membuat penonton betah duduk lesehan di atas rumput alun-alun.

“Saya sering main kethoprak dan wayang orang. Tapi malam ini saya bingung, sebenarnya saya ini salah kostum atau salah peran, kenapa bertemu dan bermain dengan mereka di atas panggung ini,” ujar Sekda Sri Puryono

Sekda yang kerap tampil di beebagai pagelaran wayang orang dan kethoprak sejak menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu, mengapresiasi pertunjukkan kethoprak kolosal kolaborasi pejabat, pelajar, dan seniman di Klaten. Termasuk aksi panggung dan gaya tarian puluhan pemuda yang tampil sebagai perempuan lengkap dengan dandanan cantik lengkap dengan kebaya, selendang, dan sanggul.

“Kalian mempunyai bakat seni yang luar biasa bagus. Tarian adik-adik tadi sangat menarik. Suara Mbak Mimin bernyanyi dengan suara Mimin dan Sukimin juga luar biasa. Teruslah berkarya, tunjukkan prestasi kalian melalui karya-karya di berbagai bidang,” ujarnya.



(nun)

loading...