alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Mahasiswa UGM Buat Alat Bantu Baca Bagi Tunanetra

Priyo Setyawan
Mahasiswa UGM Buat Alat Bantu Baca Bagi Tunanetra
Mahasiswa UGM menunjukkan alat bantu baca tunanetra yang mereka buat di UGM, Kamis (11/7/2019). Foto/Dok. Humas UGM

SLEMAN - Tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil membuat alat bantu baca bagi penyandang tunanetra yang diberi nama BR-BLIND. Dengan alat ini bukan hanya mempermudah tunanetra membaca teks di media cetak (buku, majalah, surat kabar), namun juga tidak lagi tergantung dengan teks versi braile.

Sebab alat tersebut akan mengkonversi teks dari media cetak menjadi suara yang bisa langsung di dengar tunanetra. Mahasiswa yang membuat alat tersebut yakni Mahmud Fauzi, Nicolas Christianto (fakultas teknik) dan Yassir Dinhaz (sekolah vokasi).

Yassir mengatakan, pembuatan alat ini diilhami karena selama ini ketersedian buku-buku braile, baik ilmu pengetahuan maupun bacaan umum bagi tunanetra sangat minim. Padahal mereka perlu buku-buku tersebut. Hal ini tentunya menghambat akses tunanetra dalam menambah wawasan dan informasi, khususnya untuk mengasah inteletual maupun daya kreativitasnya. Sehingga perlu adanya solusi untuk memfasilitasinya.



“Kondisi itulah yang melatarbelakangi kami membuat alat bantu baca bagi tunanetra ini,” kata Yasir, dalam siaran persnya kepada SINDOnews, Kamis (11/7/2019).

Yasir menjelaskan, alat bantu baca tunanetra yang mereka kembangkan itu memakai algoritma image preprocessing. Untuk proses kerjanya, sebelum teks dikonversi menjadi suara, teks akan diproses oleh object character recognition (OCR). Teks yang sudah diproses akan dikeluarkan menjadi suara oleh text to speech (TTS) engine.

“Perangkat BR-BLIND ini langsung terhubung dengan tunanetra. Sehinggga mereka dapat mengakses informasi yang tidak diperoleh dari buku-buku versi braille. Kami berharap dengan alat ini dapat membuka akses membaca yang lebih luas bagi penyandang tunanetra,” harapnya.

Nicholas Christianto menambahkan, alat ini didukung oleh skema desain yang ramah disabilitas sehingga mampu meningkatkan independent accessibility dan menekan tingkat dependency on help penggunannya. Alat ini juga dapat diakses tanpa menggunakan koneksi internet dan dapat digunakan dimana saja.

“Alat ini juga berpotensi dikembangkan khususnya pada daerah-daerah remote, dimana internet sangat sulit untuk diakses,” tambahnya.



(mif)

loading...