alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Sultan Tanggapi Soal Penolakan Pembangunan Tempat Ibadah di Sedayu Bantul

Priyo Setyawan
Sultan Tanggapi Soal Penolakan Pembangunan Tempat Ibadah di Sedayu Bantul
Sri Sultan HB X memberikan keterangan soal penolakan warga Gunung Bulu, Argorejo, Sedayu, Bantul atas pendirian tempat ibadah. Foto/SINDOnews/Priyo Setyawan

SLEMAN - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowo (HB) X belum dapat memberikan komentar mengenai warga Gunungbulu, Argorejo, Sedayu, Bantul yang menolak pembagunan gereja di tempat tersebut. Alasannya belum mengetahui apa yang menjadi alasan warga itu.

“Saya belum tahu. Saya belum tahu persis, nanti saya ceknya dulu dasarnya apa,” kata Sultan saat dimintai tanggapan soal kasus itu, usai upacara tradisi pembinaan hari Bhayangkara ke 73 di Mapolda DIY, Rabu (10/7/2019).

Sultan hanya menegaskan pada prinsipya pembangunan tempat ibadah kalau sudah disetujui dan memiliki IMB boleh dibangun. Jika ada yang menolak tetap harus ada dasarnya. Sehingga tidak boleh ada yang melanggar hukum.



“Boleh saja (menolak), tapi ada dasarnya. Jika alasannya kearifan lokal, tetap tidak boleh melanggar hukum. Bila melanggar hukum, itu berarti pidana. Sehingga tidak ada alasan yang melanggar hukum,” tandasnya.

Hal yang sama diungkapkan Kapolda DIY Irjen Pol Ahmad Dofiri. Ia mengatakan meski belum mendengar masalah itu, namun pada prinsipnya akan selalu menjaga kondusifitas wilayah dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bersama termasuk adanya komunikasi dari semua elemen, baik FKUP, pemerintah setempat dan masyarakat.

“Tugas kami mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan bersama. Karena itu perlu komunikasi bersama,” terangnya.

Dari informasi yang dihimpun, warga Gunungbulu, Argorejo, Sedayu menolak adanya pembangunan gereja di tempat itu. Sebab tempat yang akan dibangun gereja Pantekosta Immanuel Sedayu itu, sesuai dengan perjanjian antara warga dengan pendeta Tigor Y Sitorus pada tahun 2003 adalah hanya untuk rumah tinggal, bukan tempat ibadah.

Termasuk jika ada penyimpangan, siap dituntut sesuai hukum yang berlaku. Namun di tahun terakhir ini, mulai digunakan untuk ibadah, sehingga warga menolaknya.

Pendeta Tigor Y Sitorus mengakui hal tersebut. Hanya saja saat menandatangani tidak membacanya secara detail dan tidak mendapatkan salinannya. Sehingga setelah ada kebijakan dari pemkab Bantul, yaitu Perbup No 98/2016 tentang pedoman pendirian tempat ibadah, mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) tahun 2017 dan IMB keluar per 15 Janurai 2019.

Karena itu April 2019 rumahnya untuk ibadah gereja. Ia membeli tanah di situ seluas 335 meter persegi pada tahun 2003.



(mif)

loading...