alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Cerita Mereka yang Diuntungkan Sistem Zonasi

Ahmad Antoni
Cerita Mereka yang Diuntungkan Sistem Zonasi
Oktariska Salas Niko mengaku senang bisa diterima di SMAN 3 melalui jalur zonasi. FOTO/IST

SEMARANG - Calon siswa yang rumahnya dekat sekolah jadi sasaran tembak kegusaran pihak yang kontra pada sistem PPDB 2019. Mereka dituding tidak pantas bersekolah di SMA favorit hanya karena nilai UN rendah.

Padahal nilai UN bukan patokan kepintaran. Banyak yang nilainya jeblok karena faktor nonteknis. Lebih dari itu, pendidikan yang layak adalah hak setiap anak.

Oktariska Salas Niko misalnya. Pelajar 17 tahun ini berpeluang besar diterima di SMA 3 Semarang meski berbekal nilai UN 17,85. Hal ini karena rumahnya di Kampung Pelangi, Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan hanya berjarak 1,3 km. Sementara batas terjauh zonasi sekolah ini 2,4 km.



Saat ini nama Niko terdaftar di peringkat ke 63 kuota jalur zonasi SMA 3. Melihat jatah kursi zonasi yang sebanyak 245, peluang Niko jelas sangat besar. Jika pun tergeser, ia masih berpeluang masuk di SMA 5 dan SMA 1 yang tak kalah favoritnya. “Alhamdulillah saya bisa di SMA 3 yang favorit. Kalau tidak ada zonasi ya tidak mungkin dapat,” ucap Niko saat ditemui di rumahnya, Jumat (5/7/2019).

Diakuinya, nilai UN SMP yang diraihnya sangat rendah. Ia hanya mendapat nilai Bahasa Indonesia 6,60, Matematika 3,25, Bahasa Inggris 3,00 dan Ilmu Pengetahuan Alam 5,00.

Meski masuk sekolah favorit dengan bekal nilai pas-pasan, Niko tidak minder. Ia tak peduli banyak yang menuding dirinya tak layak. Justru sindiran itu jadi pelecut semangatnya untuk giat belajar.

“Saya optimis bisa bersaing dengan teman-teman lainnya. Justru termotivasi lebih giat belajar memperbaiki kemampuan akademik saya. Saya yakin di SMA 3, kemampuan saya semakin berkembang,” tegas alumni SMP Ibu Kartini Semarang ini.

Anak ketiga pasangan Joko Suhartanto dan Tri Yuniati ini juga bersemangat mengembangkan prestasi nonakademik. Selama ini ia menggeluti pencak silat dan sudah mengikuti beberapa kejuaraan.“Harapannya nonakademik juga berkembang, saya optimis bisa,” tekad peraih juara dua Kejurkot Persinas ASAD Pencak Silat Kota Semarang tahun 2018 ini.

Seperti Niko, Tri Yuniati tak menyangka anaknya bisa di sekolah favorit. Meski tak menampik anaknya mendapat keberuntungan dari sistem zonasi, namun bukan berarti tak layak mendapat pendidikan bagus.

“Dengan sistem zonasi justru siswa seperti anak saya ini berkesempatan untuk berkembang. Karena saya yakin pintar itu bukan bawaan lahir, tapi karena kerja keras dan ketekunan. Dengan pendidikan bagus anak saya akan jadi lebih baik,” tekannya.

Menurut Tri, meski mendapat banyak penolakan, namun sistem zonasi menawarkan kesempatan bagi setiap anak bersekolah di lembaga pendidikan yang bagus.

Di sisi lain, nilai UN menurutnya tidak bisa jadi patokan pintar bodohnya siswa. Ia menyontohkan anaknya yang mengidap kelainan mata sehingga tidak bisa berlama-lama di depan komputer.“Sebenarnya anak saya tidak bodoh. Nilai hariannya saja bagus-bagus, tapi UN jadi jeblok karena ujiannya di komputer,” terang ibu rumah tangga ini.

Tak hanya Niko, sejumlah anak lain juga mendapatkan berkah dari sistem zonasi. Menilik website jateng.siap-ppdb.com, sejumlah siswa bernilai UN rendah terdaftar di sekolah favorit Kota Semarang.

Misalnya Galang Saka Ayodhya Djaja Purnomo, nilai UN 17,85 terdaftar di SMA 3 Semarang. Kemudian Firda Puji Lestari terdaftar di SMA 1 Semarang dengan nilai UN 14,60. Juga Rizal Quwamuna terdaftar di SMA 3 Semarang dengan nilai UN 17,90. Atau Rafli Adnan Zhafran terdaftar di SMA 5 Semarang dengan nilai UN 19,30.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun setuju bahwa meski banyak penolakan namun tujuan sistem zonasi sangat bagus. Sistem ini meniscayakan setiap sekolah setara, tidak ada favorit-favoritan.“Justru sistem ini membuat semua sekolah menjadi favorit, meskipun sebenarnya butuh waktu untuk mewujudkan cita-cita itu,” kata dia.

Pemprov Jateng juga akan berupaya memfavoritkan semua sekolah yang menjadi kewenangannya. Caranya adalah dengan memperbaiki sarana prasarana dan kualitas pendidik.

“Bisa juga dengan memindahkan guru-guru berprestasi di sekolah favorit ke sekolah lain, jadi ada kesempatan yang sama antara siswa sekolah satu dan sekolah lainnya. Di banyak sekolah favorit dulu anaknya sudah hebat, gurunya diam saja anaknya sudah pintar sendiri. Hari ini kita butuh anak-anak yang kemampuannya kurang, butuh fasilitas, guru yang hebat sehingga pemerataan sekolah yang dulu dikasih judul favorit masyarakat itu bisa kita bikin semuanya begitu," imbuhnya.



(nun)

loading...