alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Dukung Petani, TPID Jateng Rintis Rice Market Center

Ary Wahyu Wibowo
Dukung Petani, TPID Jateng Rintis Rice Market Center
Dukung Petani, TPID Jateng Rintis Rice Market Center. Foto/SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo

SOLO - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah mulai merintis Rice Market Center (RMC) guna mengendalikan flutuasi harga beras. RMC diharapkan dapat mempertemuan antara suplai dan demand agar kedua belah pihak mendapatkan manfaat.

Analis Senior Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah Purwanto mengatakan, kondisi petani ketika panen rata-rata tidak memiliki daya tawar. Sehingga tidak mampu terserap dan harganya menjadi jatuh. Selain itu, selama ini data produksi dan pasokan juga belum efektif.

“Ini yang melatarbelakangi RMC. Harapan kami petani memiliki daya tawar, kelembagaan kuat dan fluktuasi harga dapat diredam,” kata Purwanto di Solo, Rabu (19/6/2019).



RMC adalah program TPID Jawa Tengah untuk mengendalikan inflasi, serta program sinergi yang mempertemukan suplai dan demand. Sehingga produsen hingga konsumen memiliki manfaat adanya RMC.

Pada sisi lain, RMC sebagai bagian dari upaya menyelaraskan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga. Sebab dalam pengendalian inflasi terdapat empat hal yang harus dipenuhi. Yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

RMC saat ini masih bersifat project karena konsep dimulai tahun 2018 dan mulai dilembagakan di tahun 2019. Harapannya, banyak kelompok tani yang ikut sehingga mendukung program TPID Jateng. Dalam realisasi RMC, TPID Jateng menggandeng PT Bumi Laras Hijau (BLH).

Perusahaan itu memberikan pendampingan banyak hal kepada petani. Mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, cara bertani paska panen, dan penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan).

BLH memberikan pendampingan mulai dari penanaman hingga panennya. Bahkan sejauh ini, hasil panen petani yang diberikan pendampingan bisa meningkatkan dari sekitar 5 ton/hektare menjadi 8-10 ton/hektare dengan kualitas premium. Hasil panen selanjutnya diserap BLH bekerjasama dengan BUMD Jateng guna disalurkan ke aparatur sipil negara (ASN) dan ke pasar-pasar.

Saat ini, RMC baru dikembangkan di Sragen, Karanganyar, dan Grobogan. Diharapkan RMC dapat terus berkembang ke daerah lain dengan menggandeng kelompok kelompok tani.

Namun diakui pengembangannya bertahap karena harus merubah mindshet petani dan melakukan sosialisasi. Dia memastikan RMC tidak tumpang tindih dengan Bulog. Sebab Bulog telah diajak kerjasama untk ikut menyerap hasil panen petani bersama BLH.



(mif)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif