alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Kemenkumham Pastikan 40 WNA Ditangkap di Semarang Tak Terkait Pemilu

Taufik Budi
Kemenkumham Pastikan 40 WNA Ditangkap di Semarang Tak Terkait Pemilu
Sebanyak 40 WNA asal Taiwan dan China ditangkap di Kota Semarang. FOTO/iNews/TAUFIK BUDI

SEMARANG - Puluhan warga negara asing (WNA) asal Taiwan dan China ditangkap petugas Imigrasi dari rumah mewah di Kota Semarang. Keberadaan mereka dipastikan tak terkait dengan pesta demokrasi Pemilu yang baru saja berlangsung.

WNA yang ditangkap berkewarganegaraan Taiwan sebanyak 12 orang yang terdiri 10 laki-laki dan dua perempuan. Sedangkan yang berasal dari China berjumlah 28 orang terdiri 24 laki-laki dan empat perempuan.  

Mereka selama ini menyewa sebuah rumah mewah di Kompleks Perumahan Puri Anjasmoro Blok M2 Nomor 11 Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Mereka sudah berada di Kota Semarang sejak dua bulan lalu. (Baca juga: 11 WNA Taiwan yang Diamankan Imigrasi Semarang Buronan Interpol)



Semuanya dibekuk pada Kamis 18 April sekira pukul 17.00 WIB, dan diamankan petugas Kantor Imigrasi Kelas I Semarang. Saat ini mereka ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi Kota Semarang sembari menunggu proses lebih lanjut.

"(Keberadaan 40 WNA) tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah-masalah politik (Pemilu)," ujar Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jateng, Sutrisman, kepada awak media, Senin (22/4/2019).

Petugas masih berupaya melakukan pemeriksaan untuk mendalami gerakan mereka di Indonesia. Selain itu, juga menunggu Interpol dari Taiwan karena para pelaku tidak bisa berbahasa Indonesia. Terlebih dari 40 orang itu sebanyak 11 WNA di antaranya merupakan DPO dari Interpol Taiwan. (Baca juga: Imigrasi Semarang Amankan 40 WNA Taiwan dan China)

Dari pemeriksaan sementara, mereka merupakan sindikat penipuan dan pemerasan terhadap warga negara China dan Taiwan. Para pelaku berpura-pura sebagai penegak hukum yang menginformasikan bahwa target terlibat tindak pidana dan apabila mau dibantu agar menyerahkan sejumlah uang kepada pelaku.

"Masalah ini murni kejahatan cyber dengan modus penipuan pemerasan. Korbannya di negara asalnya dia di China dan Taiwan. Jadi dengan modus-modus seperti itu mereka ada yang berperan sebagai pengadilan, sebagai kepolisian, ada yang berperan sebagai penghubung dan operator dan lain-lain," kata Dirkrimsus Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Suhartiyono.



(AMM)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif