alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Rektor UGM Enggan Beri Penjelasan, ORI DIY Siap Lakukan Panggil Paksa

Priyo Setyawan
Rektor UGM Enggan Beri Penjelasan, ORI DIY Siap Lakukan Panggil Paksa
Kepala ORI DIY Budhi Matshuri saat memberikan keterangan pers terkait pelecehan seksual yang menimpa mahasiswi UGM, Rabu (2/1/2019). FOTO/SINDOnews/PRIYO SETYAWAN

YOGYAKARTA - Ombudsman Republik Indonesia (ORI) perwakilan DIY menemukan ada dugaan maladministrasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam menanggani dugaan pelecehan seksual terhadap AL, mahasiswinya saat KKN di Pulau Seram, Maluku pada 2017 silam. Dari hasil investigasi ORI DIY, UGM lambat menangani kasus ini dan memasukkan HS, terduga pelaku pelecehan seksual, ke dalam daftar wisudawan UGM periode 19 November 2018 lalu.

Atas dugaan maladministrasi tersebut, hari ini pukul 10.00 WIB, Rektor UGM Panut Mulyono dipanggil untuk memberikan keterangan di kantor ORI DIY. Namun rektor tidak bersedia datang dan meminta ORY untuk datang ke UGM langsung.

"Karena rektor UGM tidak mau datang, maka kami hari ini, kami akan mengirimkan surat pemanggilan," kata kepala ORI DIY Budhi Matshuri kepada media di kantor ORI setempat, Rabu (2/1/2019). (Baca juga: Polda DIY Temukan Bukti Awal Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswi UGM)



Menurut Budhi, sebenarnya ORI telah melakukan cara persuasif yakni dengan mengirimkan surat dan mendatangi UGM langsung. Namun kedua langkah tersebut tidak mendapat respons. Surat pertama dikirimkan 13 Desember 2018 untuk hadir di kantor ORI pada 19 Desember 2018. Namun dengan alasan bertepatan dengan dies natalis UGM, maka ditunda 20 Desember 2018.

Namun, 20 Desember 2019 pagi Rektorat UGM memberitahukan bahwa yang akan hadir Bagian Pembantu Rektor dan Humas UGM. Namun karena yang dibutuhkan adalah keterangan rektor, maka ORI tetap meminta kapan waktu rektor yang kosong. Hingga libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 tidak ada tanggapan. Karena itu, Senin (31/12/2018), ORI mendatangi UGM, tapi Rektor UGM menolak bertemu ORI DIY.

"Karena itu ORI DIY secara lisan meminta kepada rektor UGM untuk hadir di ORI, Rabu (2/1/2019) pukul 10.00 WIB. Tetapi Bagian Hukum UGM memberitahu rektor tidak bersedia di ORI tetapi di UGM," katanya.

ORI DIY kemudian mendiskusikan hal itu dan memutuskan tidak akan datang ke UGM. Sesuai mekanisme UU, ORI DIY akhirnya mengirim surat pemanggilan kepada rektor UGM untuk memberikan penjelasan soal adanya dugaan maladminstarsi tersebut pada Senin (7/1/2019).
Jika tetap tidak ada respons, maka ORI akan mengirim surat panggilan lagi sampai tiga kali. Bila panggilan ketiga tetap tidak mau datang, maka akan dipanggil paksa.

"Untuk kepentingan itu, selain mengirimkan surat panggilan ke rektor UGM juga berkoordinasi dengan Polda DIY," katanya. (Baca juga: Fakta-Fakta Kasus Pelecehan Seksual Mahasiswi UGM Versi Terlapor)

Mengapa ORI DIY tetap menginginkan rektor UGM yang memberikan penjelasan? Menurut Budi, kebijakan dalam penangganan kasus pelecehan seksual tersebut dibuat oleh rektor. Karena itu hanya rektor yang bisa memberikan penjelasan, bukan pembantu rektor atau humas.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UGM Panut Mulyono tetap menyerahkan kepada Bagian Humas dan wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM. Mengenai pemanggilan ORI DIY, sudah menyerahkan bagian hukum dan organisasi untuk mengurusnya. "Itu sejak awal sudah menjadi kesepakatan kami," kata Panut saat dihubungi melalui ponselnya.

Ditanya akan adanya pemanggilan paksa jika sampai tiga kali pemanggilan ORI tetap tidak mau datang, Panut tidak memberikan keterangan. Alasannya sedang ada rapat. "Rapat sedang ada rapat," katanya singkat.



(AMM)

loading...