alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Prabowo yakin Bisa Turunkan Tarif Listrik pada 100 Hari Pertama

Raka Dwi Novianto
Prabowo yakin Bisa Turunkan Tarif Listrik pada 100 Hari Pertama
Massa pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memadati Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (7/4/2019). Foto/SINDOnews/Isra Triansyah

JAKARTA - Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto berjanji menurunkan harga listrik pada 100 hari pertama apabila terpilih sebagai presiden. Hal itu disampaikan saat kampanye akbar bersama cawapresnya Sandiaga Salahuddin Uno, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (7/4/2019).

Janji tersebut berawal saat mantan Danjen Kopassus itu berkonsultasi kepada para pakar yang membantunya di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mengenai kesulitan yang dialami rakyat.

Prabowo meminta masukan para pakarnya untuk membantu menurunkan harga kebutuhan masyarakat, termasuk tarif listrik yang dinilai memberatkan masyarakat.



"Pakar saya salah satunya Pak Rizal Ramli (ekonom) dia ahli matematika dan fisika. Beliau hitung dengan tim pakar yang bekerja. Saya tanya bisa enggak turunkan harga listrik?" tanya Prabowo.

Tim pakar pun, kata Prabowo, melalukan penghitungan. Dia pun menanyakan kembali berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan tarif listrik.

"Mereka (para pakar) hitung. Berapa lama tiga tahun? enggak Pak. Dua tahun? Enggak pak. Saya kira minimal 1,5 tahun tapi dia (Rizal Ramli-red) mengatakan tidak Pak seratus hari pertama," tuturnya.

Perkataan Prabowo mendapat respons tepuk tangan riuh dari massa yang hadir. Meski demikian, Prabowo sempat ragu dengan hitungan tersebut, karena dirinya khawatir prediksi itu salah dan berpotensi membohongi masyarakat.

"Saya bilang ke dia (Rizal Ramli-red) jangan salah kamu, saya mau bicara di Senayan, saya mau bicara di depan jutaan rakyat Indonesia jangan sampai saya bohong. Beliau bilang tidak pak ini hitungan bisa kita turunkan," ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga sempat menanyakan penyebab dari mahalnya tarif listrik yang terjadi di Indonesia.

"Jadi kenapa selama ini tinggi, dia jawab biasa Pak banyak yang ngejar setoran," tuturnya



(nun)

loading...