alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Mengerikan, Korban Tewas Wabah Virus Corona Tembus 2.000 Orang

KORAN SINDO
Mengerikan, Korban Tewas Wabah Virus Corona Tembus 2.000 Orang
Seorang petugas medis sedang memeriksa suhu tubuh seorang sopir truk di Beijing, China. Foto/Reuters

BEIJING - Sungguh mengerikan. Kematian akibat wabah virus korona COVID-19 di daratan utama China menembus angka 2.000 sampai kemarin. Meski demikian, jumlah kasus baru menurun dalam dua hari terakhir. Menurut Komisi Kesehatan China, jumlah pasien baru hanya sebanyak 1.749 orang, terendah sejak 29 Januari silam.

Sementara jumlah warga negara Indonesia yang positif terpapar virus korona di kapal pesiar Diamond Princess yang kini tertambat di Yokohama, Jepang bertambah satu orang. Dengan demikian, total WNI korban virus korona berjumlah empat orang. Mereka saat ini tengah menjalani perawatan di Jepang.

Data terbaru menunjukkan jumlah pasien COVID-19 di China mencapai 74.000 orang, 2.004 di antaranya meninggal dunia. China menyatakan perlambatan tingkat infeksi itu membuktikan China berhasil mengendalikan situasi. Para ahli kesehatan global juga memuji upaya China dalam menangani dan mencegah virus tersebut.



Pemerintah Provinsi Hubei, pusat wabah COVID-19, akan menerapkan pengawasan yang lebih ketat untuk mengantisipasi penyebaran lebih lanjut. Semua pasien yang memiliki riwayat demam sejak 20 Januari akan kembali diperiksa, termasuk mereka yang membeli obat batuk dan demam di warung atau online.

Kepala Program Darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan mengapresiasi keteguhan dan kesabaran yang dilakukan China dalam memadamkan “api kebakaran” di Hubei. Dia juga memuji upaya China untuk melacak setiap jejak virus, tak terkecuali dengan mengawasi warganya yang baru pulang mudik. “Saat ini strategi dan taktik pendekatan yang diambil China sudah tepat,” ujar Ryan, dikutip Reuters. Dengan sistem itu, jumlah pasien baru di China, kecuali Hubei, telah menurun dalam 15 hari terakhir secara beruntun. Totalnya sekitar 56 orang pada Selasa (18/2) waktu lokal, turun dari 890 orang pada 3 Februari.

Meski dunia cemas atas dampak ekonomi yang akan ditimbulkan COVID-19, Perwakilan China untuk Uni Eropa (UE) menyatakan dampaknya terbatas, dalam jangka pendek, dan dapat diatasi. Beijing disebut memiliki sumber daya yang memadai. China bahkan optimistis pertumbuhan ekonominya akan mencapai target.

Dalam mosi kepercayadirian bahwa virus korona tidak akan merusak ekonomi China dalam jangka panjang, seorang sumber mengatakan China telah menerima dana investasi sekitar 120 miliar yuan atau 20 kali lipat dari target 6 miliar yuan. Di tengah wabah COVID-19, China telah menggencarkan marketing investasi.

Bagaimanapun wabah COVID-19 juga berdampak terhadap bisnis dan perdagangan di seluruh dunia. Perusahaan pembuat mobil asal Inggris, Jaguar Land Rover, terancam kekurangan suku cadang. Korsel juga menyatakan ekonomi nasional dalam keadaan darurat dan perlu dirangsang agar permintaan naik lagi.

Banyak Korban di Diamond Princess

Angka infeksi COVID-19 tertinggi di luar China terjadi di dalam kapal pesiar Diamond Princess yang kini tertambat di Yokohama, Jepang, yaitu 621 dari 3.700 orang. Sekitar 500 penumpang telah keluar dari Diamond Princess kemarin, sedangkan penumpang yang sekamar dengan pasien akan dikarantina lebih lama.

Sebagian besar pasien positif telah dibawa menuju rumah sakit (RS). Dengan kondisi itu, sebagian pemerintah dunia berencana merepatriasi warganya yang terjebak di Diamond Princess. Korea Selatan (Korsel) telah menyelamatkan sekitar tujuh orang warganya, sedangkan Australia memulangkan lebih dari 200.

Amerika Serikat (AS) juga mengevakuasi sekitar 300 warganya dari Diamond Princess pada awal pekan ini. Inggris, Kanada, Italia, Australia, Hong Kong, dan Taiwan juga berencana mengevakuasi warganya dalam waktu dekat. Di luar China COVID-19 telah menjangkit lebih dari 830 orang, lima di antaranya tewas.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jepang menyatakan jumlah pasien COVID-19 dari Diamond Princess bertambah 79 orang, 68 di antaranya tidak menunjukkan gejala apa pun. Kapal itu dikarantina di Yokohama, Jepang sejak 3 Februari setelah penumpang yang turun di Hong Kong positif terjangkit COVID-19.

“Kami perlu mengambil langkah untuk mencegah kasus ini memburuk, termasuk dengan mengirimkan pasien terinfeksi ke RS,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Jepang, Katsunobu Kato. Namun, langkah itu, terutama isolasi, dinilai para ahli tidak efektif dalam mencegah penyebaran virus yang ada di dalam kapal.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS juga mengatakan proses karantina kapal tidak akan cukup. Mereka khawatir para penumpang justru akan semakin rentan terjangkit jika dibiarkan seperti itu. Selain itu, para penumpang yang keluar dari kapal juga akan kembali menjalani karantina selama 14 hari.

Sejauh ini Pemerintah Jepang menolak berkomentar kenapa warganya yang keluar dari kapal tidak dikarantina kembali. Sebelumnya Institut Nasional Penyakit Menular (NIID) Jepang menyatakan para penumpang yang tidak menunjukkan gejala apa pun selama 14 hari di dalam kapal tidak perlu diawasi kembali.

“Kecuali mereka yang satu ruangan dengan pasien positif. Mereka akan kembali dikarantina di dalam kapal selama 14 hari terhitung sejak rekannya meninggalkan kapal,” ungkap Kemenkes. “Mereka juga akan dipindahkan ke ruangan yang lain dan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tambah Kemenkes.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan warga negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNIBHI) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Judha Nugaraha mengungkapkan, jumlah WNI yang bekerja di Diamond Princess sebanyak 78 orang. “Kami mendapatkan informasi terbaru bahwa empat warga negara kita terinfeksi virus korona di Diamond Princess,” kata Judha di Jakarta kemarin.

Empat WNI itu dirawat di dua RS yang berbeda di Kota Chiba dan Tokyo. “Mereka kini dalam kondisi stabil. KBRI Tokyo terus memantau kondisi mereka,” ujar Judha. (Muh Shamil)



(nun)