Kalangan Milenial Diincar Jadi Pengantin Aksi Terorisme

Kamis, 20 Februari 2020 - 00:15 WIB
Kalangan Milenial Diincar Jadi Pengantin Aksi Terorisme
Kepala Badan Kesbangpol Jateng Haerudin menyatakan bahwa gerakan terorisme saat ini menyasar generasi milenial. FOTO/iNews/TAUFIK BUDI
A A A
SEMARANG - Generasi milenial menjadi kalangan yang paling diincar gerakan radikal untuk direkrut. Mereka akan disiapkan menjadi calon-calon pengantin yang siap melakukan tindakan teror termasuk aksi bom bunuh diri.

"Kalangan yang dipilih adalah kebanyakan generasi muda, milenial. Memang secara teori, pengantin itu rata-rata usia 18 sampai 24 tahun. Maka bidikannya seusia-usia ini," kata Kepala Badan Kesbangpol Jateng Haerudin, Rabu (19/2/2020).

Dia menjelaskan, pada rentang usia tersebut tak hanya masyarakat umum yang diincar tetapi juga pelajar dan mahasiswa. Apalagi, jika pemahaman agama mereka kurang baik maka akan dengan mudah dipengaruhi untuk direkrut.

"Justru kepada generasi yang pemahaman agamanya itu tidak melalui proses pemahaman yang mungkin dari kecil ngaji. Kemudian yang tidak punya ustaz atau guru. Justru mereka (gerakan radikal) cenderung mencari sasaran itu, yang justru dasar agamanya tidak terlalu mendalam," ungkapnya.

Meski secara terori, kalangan yang diincar gerakan radikal pada usia 18-24 tahun, tapi tak menutup kemungkinan akan merekrut golongan di bawahnya. Terlihat dari usia remaja yang aktif berkegiatan sehingga dianggap berpotensi umntuk direkrut.

"Mendekati kelompok pelajar ini masih kita telusuri, karena bicara milenial kan ada yang pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Dan bisa jadi di bawah 18 tahun, karena pelajar itu sekarang mulai di atas 16 tahun, sudah mulai aktif kegiatan-kegiatan yang bisa direkrut oleh mereka," katanya.

Menurutnya, pola penyebaran gerakan radikal bisa dilakukan melalui internet dalam bentuk informasi dalam majalah elektronik. Selain itu, juga permainan isu melalui akun di media sosial seperti Facebook dan Twitter, cuci otak melalui chatting/dialog lewat dunia maya, pengajian dalam kelompok kecil (ekslusif) dengan pembimbing.

"Cara lain, mereka melakukan propaganda dan provokasi mengenai negara yang mengancam keberadaan penganut agama, menanamkan kebencian terhadap pemerintah, dan umat muslim yang bukan kelompoknya serta umat agama lain, ini harus diwaspadai," katanya.
(amm)
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
artikel/ rendering in 4.4807 seconds (0.1#10.140)