alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pemerintah-Sekolah Saatnya Taruh Perhatian ke Kasus Bullying

R Ratna Purnama
Pemerintah-Sekolah Saatnya Taruh Perhatian ke Kasus Bullying
Ilustrasi/SINDOnews

DEPOK - Psikolog Universitas Pancasila (UP) Maharani Ardhi Putri menuturkan, saat ini sudah saatnya baik sekolah maupun tempat-tempat pendidikan lain serta pemerintah menaruh perhatian serius terhadap peristiwa bullying. Karena belakangan ini banyak terjadi kasus bullying.

"Jadi sudah harus bergerak antara sekolah atau lembaga pendidikan serta pemerintah," katanya.

Kasus bullying terjadi karena minimnya kemampuan remaja dalam mengelola emosi. Kemudian adanya rasa pertemanan yang salah tempat di mana biasanya bullying dilakukan secara beramai-ramai.



"Perlu diingat bahwa bullying terjadi karena ada kesempatan. Dan biasanya korban biasanya kurang waspada atau belum dapat atau tidak dapat memprediksi tanda-tanda bahaya yang akan terjadi," ucapnya.

Tindak bullying yang dilakukan seseorang biasanya karena si pelaku itu telah mempelajari perilaku tersebut dari suatu tempat. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua atau guru perlu tahu sumber-sumber apa saja yang mereka gunakan untuk belajar dan mengajak mereka berdiskusi tentang apa yang mereka lihat, dengar dan baca.

"Remaja memang masih memiliki kemampuan analisa yang terbatas, oleh karena itu penting mengajak mereka berdiskusi untuk membantu mereka menganalisa peristiwa, sebab-akibat sehingga mereka menyadari bahwa semua perilaku memiliki konsekuensi. Penting untuk mereka memahami norma sosial, penilaian moral dan konsekuensi hukum," katanya.

Sekolah seringkali hanya mengajarkan hapalan, keseragaman, dan kepatuhan atas instruksi, sehingga remaja tidak terbiasa untuk menganalisa, berpendapat dan mengkoreksi suatu hal. Akibatnya lagi mereka kurang mampu menganalisa emosinya, pikirannya, dan yang muncul adalah perilaku reaktif.

"Ketika mereka kecewa, sedih, takut maka yang muncul hanya rasa marah karena merasa harga dirinya tercoreng. Banyak kasus-kasus bullying bermula dari hal-hal ringan, seperti tersinggung, cemburu, takut dianggap lemah dan lainnya," tambahnya.

Yang juga harus diperhatikan kata Putri adalah remaja biasanya sangat tergantung dengan peer groupnya, sehingga ketika ada temannya yang mengajak mereka cenderung langsung mengiyakan. Namun rasa solidaritas ini sering juga salah tempat, akibatnya ketika diajak melakukan aksi kekerasan pun mereka setuju tanpa menganalisa dan karena mereka takut menjadi berbeda dengan per groupnya.

"Selain itu ketika bersama-sama dengan temannya, seseorang bisa merasa lebih kuat karena mendapat social support, ada penonton yang menyoraki yg justru membuat perilaku kekerasan meningkat," ucapnya.

Mengenai hukuman pada pelaku bullying katanya, kadangkala tidak cukup mendidik. Bahwa pelaku harus minta maaf “tidak cukup” untuk menyadarkan mereka bahwa perilakunya salah. Bahwa pelaku dikeluarkan dari sekolah juga seringkali tidak merubah sikapnya, ia hanya akan pindah ke sekolah lain atau justru lebih parah apabila menjadi pengangguran.

"Perlu ada hukuman yang lebih sistematis, misalnya pelaku harus melakukan kerja sosial yang bisa menumbuhkan rasa empatinya, mengikuti konseling, mendapatkan tugas tertentu secara rutin, sehingga dapat terbentuk perilaku yang baru," paparnya.

Yang paling baik dari semua adalah tindakan preventif yang sistematis, dimana dari awal seluruh siswa telah diberi psikoedukasi mengenai bullying. Ada baiknya sekolah mengadakan nomer khusus yang dapat dihubungi untuk melaporkan tindakan bullying sekecil apapun.

"Membentuk peer counselor dimana siswa saling mendukung siswa lain yang membutuhkan untuk berani bicara," pungkasnya.



(nun)