alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Bom Mobil Meledak di Mogadishu Somalia, 61 Orang Tewas Mengenaskan

Syarifudin
Bom Mobil Meledak di Mogadishu Somalia, 61 Orang Tewas Mengenaskan
Ambulans meninggalkan lokasi ledakan bom mobil di Mogadishu, Somalia, 28 Desember. Foto/ REUTERS/Feisal Omar

MOGADISHU - Sebuah bom mobil meledak di pos pemeriksaan di Mogadishu, Somalia, Sabtu (28/12/2019). Hingga saat ini korban tewas telah mencapai 61 orang dan 51 orang terluka.

Tim penyelamat membawa jasad-jasad korban di antara bangkai satu mobil dan satu minibus taksi yang bersimbah darah. "Sejauh ini kami membawa 61 jasad dan 51 orang lainnya terluka. Ada lebih banyak korban dan korban tewas dapat bertambah," ujar pendiri ambulans Aamin, Abdikadir Abdirahman Haji Aden kepada Reuters.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan itu. Setelah ledakan di pos pemeriksaan Ex Control, warga yang tinggal di dekat lokasi itu, Sabdow Ali menyatakan, ia keluar dari rumahnya dan menghitung ada 13 orang tewas.



"Puluhan orang yang terluka berteriak minta tolong, tapi polisi segera melepas tembakan dan saya bergegas kembali ke rumah saya," ujar Ali.

Tiga saksi mata lainnya menyatakan, tim kecil teknisi Turki berada di lokasi saat ledakan terjadi. Mereka membangun jalan dari pos pemeriksaan ke kota. Saksi mata menyatakan, satu mobil milik teknisi itu hancur di tempat ledakan. Belum jelas apakah para teknisi itu selamat.

Turki menjadi pendonor utama ke Somalia sejak kelaparan pada 2011. Turki dan Qatar mendanai sejumlah infrastruktur dan proyek medis di Somalia.

Kelompok al Shabaab yang terkait Al Qaeda secara rutin melancarkan serangan untuk merusak kepercayaan publik pada pemerintah. Serangan paling mematikan yang dilakukan oleh kelompok itu terjadi pada Oktober 2017, saat truk berisi bom meledak dekat truk bahan bakar di Mogadishu sehingga mengakibatkan badai api yang menewaskan hampir 600 orang.

Meski al Shabaab sering melakukan serangan, korban tewas biasanya lebih sedikit dibandingkan saat ledakan Sabtu (28/12). Kelompok itu kadang tak mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang memicu kecaman publik seperti bom bunuh diri 2009 saat upacara wisuda untuk para mahasiswa kedokteran.

Pelaku Seorang Wanita

Pelaku bom bunuh diri yang menewaskan wali kota Mogadishu, Somalia, dan enam orang lainnya bulan lalu adalah seorang wanita buta, yang bekerja di pemerintah kota setempat. Wanita itu diduga dimanfaatkan kelompok al-Shabaab.

Kementerian Keamanan Somalia pada hari Jumat (9/8/2019) mengatakan pegawai buta itu beraksi dengan bantuan seorang rekan kerjanya.

Kelompok al-Shabaab yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan berambisi menggulingkan pemerintah Somalia yang didukung PBB telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri pada 24 Juli lalu di ibu kota Somalia, Mogadishu.

Wali Kota Mogadishu, Abdirahman Omar Osman, yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Partai Buruh di London, meninggal karena luka-lukanya seminggu setelah serangan itu. Dia meninggal ketika dirawat di sebuah rumah sakit di Qatar.

"Temuan awal menunjukkan seorang wanita yang bekerja di pemerintah daerah meledakkan dirinya dengan bantuan wanita lain, yang juga bekerja di pemerintah setempat," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters.

Kasus ini diduga penggunaan pertama al-Shabaab terhadap orang berkebutuhan khusus sebagai pengebom bunuh diri. Kementerian tersebut mengatakan pengebom menggunakan kebutaannya untuk melewati pemeriksaan keamanan dan mencapai kantor wali kota.

Keberadaan rekan kerja yang membantu aksi wanita buta itu belum diketahui. Masuh menurut kementerian tersebut, sebelum pengeboman, kedua wanita itu pergi dari tempat kerjanya dan mengunjungi wilayah Somalia yang dikuasai oleh kelompok al-Shabaab.

"Pengebom wanita itu cacat (buta). Dia menyalahgunakan kesempatan dan bertindak bermusuhan terhadap atasan dan orang-orang yang bekerja dengannya," imbuh pernyataan kementerian tersebut.

Osman melarikan diri sebagai pengungsi ke Inggris setelah perang saudara pecah di Somalia pada tahun 1991. Selama di Inggris, dia memperoleh gelar master, menjadi warga negara yang dinaturalisasi dan bekerja di departemen perumahan di wilayah Ealing di London.

Dia kemudian kembali ke Somalia untuk membantu membangun kembali tanah kelahirannya yang hancur karena perang di Tanduk Afrika.



(amm)