alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Menuju Pasar Modern, Tiga Pasar Tradisional di Sleman Direvitalisasi

Priyo Setyawan
Menuju Pasar Modern, Tiga Pasar Tradisional di Sleman Direvitalisasi
Suasana salah satu pasar tradisional di Sleman. FOTO : DOK SINDOnews

SLEMAN - Kabupaten Sleman kembali akan melakukan revitalisasi sejumlah pasar tradisional pada tahun 2020. Revitalisasi ini, sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman yang akan mengubah pengelolaan manajeman pasar tradisional menjadi pasar modern.

Terutama dalam hal pengelolaan dan penyajian dagangannya. Dimana nanti barang dagangan sudah tidak dikemas lagi secara tradisional, tapi dibuat sama seperti layaknya di toko modern.

Selain itu, juga sebagai respons terhadap membanjirnya toko waralaba (jejaring) di Sleman, yang diduga menjadi penyebab terus sepinya pasar tradisional. Di Sleman sendiri, ada 41 pasar tradisional yang tersebar di 17 kecamatan se Sleman dan 31 pasar desa.



Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan berbagai langkah untuk mengubah pengelolaan manajeman pasar tradisional menjadi pasar modern.

Di antaranya dengan merevitalisasi atau menata kembali sejumlah pasar tradisional. Diharapkan dengan adanya perubahan tersebut, dapat menarik lagi minat masyarakat untuk berkunjung ke pasar tradisonal, yang sekarang mulai ditinggalkan.

“Tahun 2020, ada tiga pasar yang akan direvitalisasi, yaitu Pasar Ngino, Margoagung, Seyegan, Pasar Jangkang, Widodomartani, Ngemplak dan Pasar Sambilegi, Maguwoharjo, Depok dengan anggaran Rp6,1 miliar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK),” ungkap Mae Rusmi Suryaningsih di sela-sela peresmian pusat kulakan handphone di Pasar Prambanan, Jumat (6/12/2019).

Mae panggilan Mae Rusmi Suryaningsih menjelaskan revitalisasi tiga pasar tersebut diperlukan sebab kondisinya sudah tidak memadai, baik fasilitas maupun tempat usahanya. Seperti Pasar Ngino perlu direnovasi karena cukuo ramai sudah tidak mampu menampung pedagang. Sehingga meluber sampai ke jalan.

“Untuk Pasar Sambilegi dan Jangkang, terutama pada bagian belakang kurang layak, sehingga perlu perbaikan,” paparnya.

Menurut Mae meskipun nantinya manajeman pasar dikelola secara modern, namun untuk ciri dan suasana pasar tradisional tetap dipertahankan. Termasuk dalam jual belinya tetap dikemas dalam sistem tradisional. Seperti adanya tawar menawar antara pembeli dan penjual untuk produk tertentu.

“Untuk mewujudkan hal ini, selain memerlukan perencanaan yang matang dan anggaran yang besar, juga membutuhkan partisipasi semua pihak,” paparnya.

Mae menambahkan selain dengan melakukan revitalisasi pasar, pihaknya juga akan memberikan sarana dan prasarana untuk melengkapi keberadaan pasar tersebut. Di antaranya, fasilitas umum (Fasum), pos satpam, tempat bermain dan penitipan anak. Fasum tersebut, nantinya akan berada satu lokasi dengan pasar. Sehingga pembeli dan pedagang menjadi nyaman saat melakukan transaksi di pasar.

“Nantiny semua pasar trandisional akan direvitaslsai namun secara bertahan. Saat ini dari 41 pasar tradisional di Sleman, sudah 21 pasar yang direvitaliasi, sehingga dengan penambahan 3 pasar lagi, nantinya menjadi 24 pasar,” jelasnya

Ketua Komisi B DPRD Sleman, Nurhidayat mengataka karena pasar tradisional merupakan urat nadi perekonomian warga Sleman, maka dalam melakukan revitalisasi jangan sampai menganggu aktivitas mereka. Karena itu masalah ini juga harus mendapat perhatian. Bisa dengan memindahkan ke pasar darurat yang ada di dekat pasar tersebut maupun cara lainnya.

“Termasuk dalam pelaksanaan juga harus memilih rekanan yang benar-benar qualified. Sehingga kasus mandegnya pengerjaan di tengah jalan seperti yang terjadi di Pasar Sleman tahun 2017 lalu tidak terjadi lagi,” tandasnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Sapto Winarno mengatakan siap melaksanakan pembangunan revitalisasi tiga pasar tersebut dan ditargetkan dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan.



(nun)