alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Cek Kebugaran Masyarakat, Kemenpora Ambil Sampel 6.800 Responden

Ary Wahyu Wibowo
Cek Kebugaran Masyarakat, Kemenpora Ambil Sampel 6.800 Responden
Tes pengukuran sport development index tahun 2019 yang dilakukan Kemenpora di GOR Baturan, Colomadu, Karanganyar, Jawa tengah Selasa (12/11/2019) sore. FOTO : SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo

SOLO - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) melakukan tes pengukuran sport development index tahun 2019 di 34 propinsi di Indonesia. Tes tingkat kebugaran masyarakat tersebut mengambil sampel 6.800 responden yang tersebar di berbagai daerah.

Kepala Bidang Sanggar dan Pusat Kebugaran Kemenpora Drs Waluyono MM mengatakan, sport development index merupakan indeks untuk pengukuran tingkat pembangunan olahraga di Indonesia. “Pembangunan olahraga di Indonesia harus dilakukan komprehensif dan merata. Dari Aceh sampai Papua, dari usia dini sampai ke orangtua,” ungkap Waluyono di sela sela tes pengukuran sport development index di GOR Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Selasa (12/11/2019).

Cara mengukur bahwa pembangunan olahraga di Indonesia, bukan semata melalui perolehan medali. Hal itu merupakan puncak prestasi keolahragaan. Terdapat empat dimensi yang menjadi ukuran dalam melakukan tes pengukuran sport development index. Diantaranya ketersediaan ruang publik untuk olahraga, tenaga keolahragaan yang bisa menjadi insipirator untuk masyarakat berolahraga, dan partisipasi masyarakat.



Dalam tes pengukuran, lanjutnya, Kemenpora mengambil sampel secara acak dari Aceh sampai Papua. Untuk setiap propinsi mengambil sampel di dua titik. Dimana responden setiap titik sekitar 100 orang. “Dari 34 propinsi terdapat 68 titik dengan jumlah responden 6.800 orang,” paparnya. Selanjutnya, hasil tes pengukuran akan diolah guna melihat sampai sejauh mana indeks pembangunan olahraga di Indonesia.

Dalam tes pengukuran, nantinya juga akan terlihat tingkat kebugaran masyarakatnya. “Jika kebugaran masyarakat tinggi, biasanya diimbangi dengan ruang publik yang baik. Apabila rendah, biasanya lainnya juga berpengaruh,” bebernya. Selama ini, tingkat kebugaran masyarakat Indonesia masih rendah karena belum menembus angka empat digit ke atas.

Dengan demikian, pemerintah harus menciptakan peluang atau event event agar masyarakat berolahraga. Seperti senam massal, jalan ria, lomba gerak jalan, gowes massal dan lainnya yang sifatnya mendorong masyarakat keluar rumah untuk olahraga. “Masyarakat kita kalau diajak tanpa suatu event biasanya cenderung segan,” terangnya. Event event itu diharapkan memicu masyarakat mau berolahraga.

Untuk Jawa Tengah, sampel dipilih Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar. Tes pengukuran melibatkan para akademisi, dan untuk Jawa Tengah menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Jawa Tengah merupakan propinsi yang terakhir dalam tes pengukuran sport development index tahun 2019. Tes pengukuran telah berlangsung sejak September lalu.

Hasilnya akan diolah dan menjadi blue print Kemenpora tentang pembangunan olahraga di Indonesia. Serta menjadi laporan ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Hasil pembangunan olahraga di Indonesia, visi misinya adalah meningkatkan kebugaran kesehatan masyarakat di Indonesia. Sehingga nantinya berdampak terhadap derajat kesehatan masyarakat. “Efeknya adalah penurunan BPJS,” imbuhnya.

Panitia pelaksana Lapangan tes pengukuran sport development index di Gor Baturan, Colomadu, Karanganyar, Singgih Hendarto mengatakan, lokasi ini dipilih karena sebagai tempat beraktivitas masyarakat dari berbagai wilayah. “Mulai dari bapak bapak hingga anak anak beraktivitas di sini. Mulai dari jalan jalan, sepakbola, olahraga hingga sekedar bermain,” terang Singgih.



(nun)

loading...