alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Sekilas Sosok Pahlawan Nasional Prof KH Abdul Kahar Muzakkir

Priyo Setyawan
Sekilas Sosok Pahlawan Nasional Prof KH Abdul Kahar Muzakkir
Pengunjung sedang melihat keterangan rektor pertama UII Prof KH Abdul Kahar Muzakkir di museum UII, Jumat (8/11/2019). FOTO : SINDOnews/Priyo Setyawan

YOGYAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) tahun 2019 menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh bangsa. Penganugerahan itu tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 120/TK tahun 2019 tertanggal 7 November 2019. Upacara penganugerahan sudah dilakukan di Istana Negara Jakarta, Jumat (8/11).

Satu tokoh bangsa yang mendapat gelar pahlawan nasional yaitu Prof Abdul Kahar Muzakkir sebagai pahlawan perintis kemerdakaan. Lalu siapa Abdul Kahad Muzakkir.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid mengataka Prof KH Abdul Kahar Muzakkir lahir di Yogyakarta, 26 April 1907. Beliau adalah cicit Kiai Hasan Bashari, seorang guru agama dan pimpinan thariqat Satariyah, yang dikenal juga sebagai salah satu komandan laskar Pangeran Diponegoro (Ketika berperang melawan Belanda 1825 1830).



Mula-mula masuk SD Muhammadiyah Selokraman Kotagede, kemudian ke Pondok Pesantren Gading dan Krapyak untuk memperdalam ilmu agama; dan dilanjutkan di Pondok Pesantren Jamsaren Solo sambil belajar di Madrasah Mambaul Ulum.

Tahun 1924 berangkat menunaikan ibdah haji ke tanah suci, dengan maksud terus bermukim dan belajar disana; tetapi perang yang berkecamuk di sana memaksanya pergi ke Mesir.

Pada tahun 1925 beliau berkirim surat kepada keluarganya bahwa beliau sudah diterima menjadi Mahasiswa Universitas Al Azhar di Kairo. Kemudian untuk efektivitas Gerakan Pelajar Indonesia di Kairo dalam menyongsong Indonesia merdeka, pada tahun 1927 Abdul Kahar Muzzakir pindah ke Universitas Darul Ulum yang berkedudukan di Kairo.

Pulang ke Indonesia pada tahun 1938 langsung menceburkan diri ke dalam berbagai organisasi Dawah dan politik. Mula-mula dimasukinya Muhammadiyah dan diangkat menjadi Direktur MUallimin, terus menjadi pengurus Majelis Pemuda dan Majelis PKU Muhammadiyah. Kemudian (1953) menjadi pengurus Pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Pergerakan politik dilakukannya melalui Partai Islam Indonesia bersama-sama dengan Prof. Dr. HM.Rasyidi, KH. Mas Mansoer, Prof KH Faried Maroef, Mr Kasmat Bahuwinangun, dan Dr Soekiman Wirjosandjojo.

Dalam bidang pemerintahan, beliau pernah memasuki Jawatan Ekonomi Pemerintah Militer, Pegawai Sipil Jawatan Siaran Radio Militer, Markas Besar Tentara sebagai komentator Luar Negeri bersama Muchtar Lubis, dan di Jawatan Kementerian Agama dengan pangkat sebagai pegawai tinggi tingkat II.

Partisipasi yang terbesar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah keterlibatan secara aktif di dalam BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia) pada tahun 1945; dan ikut memancangkan tonggak sejarah dalam proses perumusan dasar negara dalam apa yang dikenal sebagai Piagam Jakarta.

Piagam Jakarta adalah merupakan kesepakatan luhur bangsa Indonesia untuk segera terciptanya kemerdekaan; ditandatangani pada tanggal 22 Juni 1945 oleh 9 orang yang merupakan tokoh dari kekuatan-kekuatan politik yang hidup waktu itu.

Mereka adalah IrSoekarno, Drs MohHatta, MrA.A. Maramis, Abikoesno Cokrosoeyoso, H Abdul Kahar Muzzakir, H Agus Salim, Mr Ahmad Soebardjo, KH Wahid Hasyim, dan Mr Moh Yamin.

Selain itu, Abdul Kahar Muzakkir juga terjun di dunia pendidikan. Yaitu sebagai perintis berdirinya Universitas Islam Indonesa (UII). Di awali dengan berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) di Gondangdia, Jakarta, 8 Juli 1946.

“Di STI ini beliau menjadi rektor. Saat ibukota Indonesia pindah ke Yogyakarta, STI juga ikut pindah Yogyakarta, Abdul Kahar Muzakkir tetap menjadi rektor,” kata Fathul Wahid, Sabtu (9/11/2019).

Fathul menjelaskan setelah STI diubah menjadi UII (1948), Abdul Kahar Muzakkir masih dipercayai menjabat Presiden (Rektor) hingga tahun 1960 digantikan oleh Mr. Kasmat Bahuwinangun. Setelah itu menjadi dekan Fakultas Hukum UII sampai akhir hayatnya, 2 Desember 1973.

“Masih amat banyak segi-segi lain yang dapat dicatat sebagai karya dan peranan Abdul Kahar Muzakkir dalam memperjuangkan dan mempertahankan serta mengisi Kemerdekaan Indonesia. Juga dalam memperjuangkan dan membela agama dan umat Islam,” terangnya.



(nun)

loading...
Berita Terkait