alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pandemi Covid-19, Momentum Spiritual dan Pendewasaan Kemanusiaan

Ahmad Antoni

SEMARANG - Umat Hindu Kota Semarang berpandangan bahwa munculnya pandemi wabah virus corona jenis baru, Covid-19 merupakan ganti kali bumi, yaitu peralihan masa gelap jahat menuju sebuah era baru yang lebih baik. Manusia lebih sadar arti kesetiakawanan serta lebih sadar arti gotong-royong.

Ketua Perisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, I Nengah Tirta Darmayana menjelaskan, secara teologi Hindu bahwa Dewa dan Bhuta Kala diciptakan bersamaan oleh Hyang Widhi. Artinya di saat Bhuta Kala melakukan proses peralihan, masa pancaroba, umat manusia diminta melakukan Brata (menarik diri dari keramaian, puasa dan mawas diri).

"Kalau sudah selesai Pemargin atau jalannya Sang Bhuta Kala, baru kita keluar sebagaimana mestinya. Ketika kekuatan alam sedang bergerak (gunung meletus misalnya) kita sebagai manusia yang memiliki nalar ya harus menghindar dan menepi," kata I Nengah kepada SINDOnews, Minggu (5/4/2020).



Menurutnya, penggunaan nalar ini dalam Hindu disebut Wiweka (kemampuan menimbang dengan dasar logika dan hati yang jernih). Pada musim ombak besar, nelayan yang harus menepi. Bukan soal berani atau takut, bukan soal kutukan penguasa laut, bukan karena Hyang Baruna benci kepada nelayan, tapi Hyang Baruna memberi kesempatan kepada nelayan untuk istirahat sejenak, menepi menimbang hidup bersama keluarga secara mendalam.

"Ketika ombak sudah berhenti kembalilah bekerja sekuat tenaga. Begitu juga menghadapi Covid-19, kita diharapkan me-Brata atau menepi dulu, saatnya nanti selesai, kembalilah keluar rumah menjalani hidup segigih mungkin," tuturnya.

Dalam Teologi Hindu, kata dia, tidak mengenal kutukan dari Hyang Widhi (Tuhan) atau Hyang Widhi benci kepada umatnya. Yang ada adalah siklus, yang membuat alam semesta ini selalu bergerak.

"Hyang Widhi mengatur semua siklus dan tatanan kosmik lewat kecerdasan di balik gerak alam semesta ini disebut dengan Rta. Rta adalah kesadaran maha tinggi yang mengatur detak jantung semesta, tarikan napas manusia, hewan, fotosintesa tumbuhan, sampai munculnya virus dan segala jenis kuman yang hadir sebagai bagian dari alam semesta raya," ujarnya.

Nengah menegaskan bahwa pandemi Covid-19 bukan sebuah kutukan. Namun seperti angin puting beliung yang datang tiba-tiba, seperti gempa yang meretak di kerak bumi. Semuanya merupakan bagian dari keselarasan kosmik yang selaras dengan kekuatan Rta. Bhuta Kala dan Dewa berjalan dalam siklus.

Dia menuturkan, Hindu mengajarkan siklus datang agar para pemeluk melakukan puja dan ritual sesuai siklus hidup dan semesta. Dari lahir sampai kematian, ada ritual untuk siklus pertumbuhan manusia, sampai akhir menutup mata.

"Jika musim penyakit ada ritual nangluk mrana (menghalau penyakit), jika musim kemarau panjang ada doa dan pujian ke alam untuk meminta hujan. Ini bukan klenik. Ini adalah bagaimana usaha manusia berkomunikasi dengan alam raya," kata Nengah.

"Tubuh kita adalah bagian dari alam raya, Panca Mahabhuta: tanah, air, api, angin, angkasa. Ketika kita berdoa variabel zat alam dan elemen alam semesta itu bekerja meresonansi alam agar diberkati dan diselaraskan dengan resonansi doa yang kita panjatkan," ujarnya.

Ada hari dimana secara teologi Hindu adalah hari kurang tepat untuk menanam, berlayar, dan menikah. Semua memiliki logika karena ajaran itu hadir dari kesadaran manusia kuno atas siklus alam semesta, kesadaran akan adanya masa tanam, masa istirahat, dan masa menepi untuk mengkarantina diri.

Jenis brata (tarik diri, puasa dan introspeksi diri) dalam Hindu adalah satunya tan alalungayan (tidak bepergian). Artinya orang harus berdiam diri, mengkarantina diri.

"Ini bagian dari monabrata (puasa diam tidak bicara), total diam dan hening, memasuki diri dan memasuki jagra (awas-mawas penuh). Spirit jagra (menjaga kesadaran penuh). Ini menjadi benteng diri dalam situasi kebencanaan dan dalam berbagai situasi kemanusiaan yang membutuhkan nalar dan kejernihan," ujarnya.

Nengah berpandangan bahwa Covid-19 adalah ombak dan badai yang bergolak kencang bergerak. Bagian dari proses semesta. Manusia diminta menepi, manusia diminta berhenti sejenak. Memasuki dirinya, menjadi kontemplatif dan tidak berhubungan dengan orang lain di masa ini.

Spirit jagra dan monobrata bisa diterapkan agar manusia tenang dan pikiran baik datang untuk bisa mentransformasi situasi wabah sebagai momentum spiritual dan pendewasaan kemanusiaan kita.

Apakah semua harus menepi? "Dalam menghadapinya, secara Hindu ada ajaran wira (semangat dan keberanian menghadapi kehidupan) dan dharma (kewajiban untuk melakukan usaha menyangga kehidupan). Spirit wira dan dharma inilah yang menjadi pedoman dalam menghadapi marabahaya dan tantangan kehidupan. Termasuk ketika Covid-19 telah mewabah," ujarnya.

Karena itu, pemimpin desa, kota, pulau, dan dunia, beserta paramedik, tentara dan polisi, semua pelayan masyarakat dan dukungan masyarakat umum diharapkan memegang prinsip wiweka, wira, dan dharma.

"Nalar, jernih, berani, teguh, pantang menyerah dalam menyangga kelangsungan kehidupan. Berani menjaga hidup, menyembuhkan yang sakit, dengan ketulusan dan keberanian, dengan segala kejernihan nalar yang maksimal atau wiweka, sehingga semua marabahaya bisa segera berlalu dengan minim korban. Inilah dharma panggilan kemanusiaan kita yang utama," paparnya.

Menurut Hindu, jagathita (jagat sejahtera) bukan dunia suci dari hama, yang tidak ada kuman dan nyamuk, tanpa flu atau batuk. Jagathita adalah dunia nalar jernih yang digerakkan oleh hati penuh kesadaran bahwa Hyang Widhi adalah kasih yang hadir di dalam hati.

Menurut Nengah, semua ciptaan Tuhan adalah bersaudara (wasudewa kutumbhakam). Bahkan Covid-19 sekalipun dilihat sebagai saudara yang hadir di dunia sebagai bagian pelengkap kehidupan. Karena itu, ketika saudara ini hadir dan menumpang lewat, maka manusia harus menepi.

"Pustaka warisan leluhur lontar Sastra Widhi Roga Sangara Bumi yang kita warisi mengajak kita optimistis menatap masa depan bahwa akan muncul era baru menyingsing setelah Covid-19," katanya.



(amm)