alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Mahasiswa UNY Olah Daun Ketapang Jadi Salep Herbal Antiperadangan

Priyo Setyawan

YOGYAKARTA - Tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil mengolah daun ketapang menjadi salep herbal untuk luka. Salep bernama Satapa itu diklaim bisa menyembuhkan luka dan antiperadangan (inflamasi) serta ramah lingkungan.

Para peracik salep herbal itu adalah Asmi Aris, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA); Miya Kurniawati, Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (FKO) Fakultas Ilmu Keolahrgaan (FIK); dan Jefri Eko Cahyono, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial (FIS).

Asmi Aris mengatakan, luka pada kulit baik karena sayatan atau tergores benda yang tajam menyebabkan kerusakan kontinuitas jaringan kulit dari normal menjadi tidak normal. Untuk mempercepat penyembuhan dan mengatasi luka tersebut, di antaranya dengan menggunakan senyawa antiinflamasi (peradangan).



"Berawal dari kasus ini kami kemudian melakukan penelitian pada tumbuhan untuk obat herbal, di antaranya duan ketapang." kata Asmi, Senin (30/3/2020).

Asmi menjelaskan, penelitian pada daun ketapang ini bukan tanpa alasan. Sebab ketapang (Terminalia catappa) merupakan tumbuhan berpembuluh yang memiliki kandungan senyawa obat, seperti tannin, flavonoid, alkaloid, titerpenoid atau steroid, dan saponin. Tannin dapat digunakan sebagai antibakteri dalam luka karena mengandung senyawa gugus fenol.

"Gugus fenol dalam tannin memiliki sifat alkohol yang berperan sebagai antiseptik," katanya.

Jefri Eko Cahyono menambahkan, pembuatan salep herbal luka daun ketapang ini, diawali dengan mengekstrak daun ketapang dengan cara maserasi. Serbuk yang telah halus direndam dalam pelarut etanol 70% selama lima hari. Setelah itu dipisahkan debris I dan filtrat I dengan menggunakan kertas saring.

Dari hasil tersebut kemudian debris I direndam kembali menggunakan etanol 70% selama dua hari dengan sesekali diaduk. Kemudian debris II dan filtrat II dipisahkan menggunakan kertas saring. Dari hasil tersebut kemudian debris II direndam kembali menggunakan etanol 70% selama 1 hari dengan sesekali diaduk. Setelah 1 hari debris III dan filtrat III dipisahkan menggunakan kertas saring.

Filtrat I, filtrat II, dan filtrat III digabungkan dan disaring kembali untuk memastikan tidak ada ampas (debris) yang terikut dan untuk memperoleh total maserat daun ketapang. Kemudian dievaporasi dengan menggunakan alat vakum evaporator dengan suhu 60 derajat Celcius sehingga diperoleh ekstrak hampir kental. Dilanjutkan dengan menggunakan waterbath dengan suhu 60 derajat Celcius hingga diperoleh ekstrak kental.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan daun ketapang dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. "Salep antiinflamasi daun ketapang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien untuk menyembuhan luka insisi dan menjadi solusi permasalahan pada pasien untuk menyembuhkan luka insisi yang diharapkan dapat berdaya saing global," katanya.



(amm)