alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Inisiasi Pengajian Sosial Aplikatif di Desa Menganti, Sruweng

SINDOnews

“Sangkan paraning dumadi; urip iku urup”
Dua penggal kalimat di atas adalah falsafah njawani; demikian orang Jawa menempatkan dirinya di lingkungan, bagaimana segala yang ditanam akan dipetik dengan hidup yang bermanfaat bagi sesama. Pada saat hidup dijalani dengan tujuan kemanfaatan bagi orang lain, akan memancar kebaikan baru bagi diri sendiri.

Falsafah yang njawani tersebut berkait erat dengan esensi ajaran Islam secara substantif yang terwujud dalam kesalihan diri dan kesalihan sosial. Kesalihan sosial ini tercermin pada kegiatan pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan, pemberantasan korupsi, hidup bersahabat dengan umat yang lain, dan bersikap tolong menolong. Hal inilah yang menjadi dasar pijakan berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, yang berawal dari tadabur Surat Al-Ma’un (QS: 107). Dengan demikian, Muhammadiyah bergerak mengabdi kepada bangsa dan Negara melalui amal usaha yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dua kebutuhan dasar yang disentuh adalah pendidikan dan kesehatan, yang merupakan dua pilar kebutuhan untuk memuliakan manusia.

Menelusuri pedesaan di Kecamatan Sruweng, Kebumen seperti melihat penampakan suasana pedesaan Jawa Tengah pada umumnya. Masyarakatnya awam beraktivitas di wilayah pertanian seperti jamak masyarakat agraris yang di Indonesia. Apalagi, Kabupaten Kebumen merupakan salah satu “lumbung” di Jawa Tengah. Namun, kondisi sosial masyarakat Kecamatan Sruweng secara khusus dan Kabupaten Kebumen secara umum dipengaruhi oleh letak geografis wilayah yang berada di perlintasan jalur transportasi darat di selatan Jawa.



Desa Menganti, Sruweng merupakan salah satu desa di pesisir selatan Jawa yang cukup asri, tetapi perkembangannya tidak signifikan sebagai desa di jalur lintas Jawa. Lokasi desa ini dari jalur lintas Jawa dan pusat Kota Kecamatan Sruweng berada di selatan (dan tidak jauh dari pantai laut selatan Jawa) yang dilingkupi persawahan di sisi kiri dan kanan jalan menuju desa.

Masyarakat Desa Menganti, Sruweng masih kental dengan tradisi Islam Abangan. Selain sebagai masyarakat Islam Abangan, masyarakat Desa Menganti, Sruweng juga dikenal sebagai masyarakat Nahdliyin yang cukup kuat secara kultural. Meskipun demikian, kehidupan keagamaan masyarakat Desa Menganti, Sruweng termasuk sangat harmonis dan toleran. Masyarakat desa ini masih mempertahankan tradisi.

Tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat desa, seperti upacara adat sedekah bumi, yaitu bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas hasil bumi yang diperoleh. Selain itu, terdapat juga tradisi tilik, yaitu kegiatan menjenguk saudara atau tetangga yang sedang sakit di rumah sakit. Kegiatan ini biasa dilaksanakan secara bersama-sama (rombongan), baik oleh anggota masyarakat satu rukun tetangga (RT) maupun kelompok pengajian. Mereka biasanya menggunakan uang kas yang mereka miliki atau memungut iuran setiap anggota untuk menyewa moda transportasi (biasanya truk bak terbuka atau bus kota).

Sementara itu, terdapat juga kegiatan keagamaan, seperti yasinan dan tahlil berupa pembacaan surat yasin dan dilanjutkan membaca tahlil setiap malam Jumat secara bergilir di rumah warga yang menjadi anggota kelompok yasinan. Pada kesempatan tersebut, tokoh masyarakat maupun lingkungan saling bertukar informasi tentang lingkungan dan kemasyarakatan. Selanjutnya, masyarakat desa juga biasa mengadakan kegiatan Muludan dan Rajaban, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW; dilaksanakan pada bulan Rabbiul Awal dan Rajab yang diisi dengan kegiatan pengajian atau tabligh akbar di musala atau masjid di sekitar desa.

Pada 2017, awal pembentukan Ranting Muhammadiyah Desa Menganti, Sruweng. Pembentukannya bermula dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang masih banyak belum melaksanakan salat. Berdasarkan kondisi ini, kemudian muncul inisiasi untuk menyediakan dan memberikan mukena kepada mereka. Cara sederhana ini secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk mendirikan salat. Pendekatan ini dapat dikatakan sebagai ‘ceramah aplikatif’ sebab tidak perlu terlalu banyak bicara tetapi melakukan pendekatan ‘halus’ (soft approach) pada masyarakat. Pendekatan ini dipilih sebab ada penolakan terhadap zakat yang diberikan oleh pihak Muhammadiyah. Penolakan tersebut terjadi karena masyarakat ‘takut’ jika kemudian menjadi bagian dari organisasi Muhammadiyah. Mengapa mereka merasa takut? Sebab, dalam asumsi mereka Muhammadiyah itu ekslusif, banyak aturan dan larangan serta dapat menggeser tradisi yang sudah ada pada mereka.

Bantuan dari lazis kemudian digunakan untuk menyediakan usaha produktif untuk masyarakat desa. Salah satunya adalah ‘odong-odong’, semacam mobil berbentuk panjang menyerupai kereta yang diwarnai sangat menarik. ‘Odong-odong’ ini digunakan sebagai kereta wisata di alun-alun kabupaten, kereta wisata anak-anak desa untuk berkeliling desa, atau kereta wisata saat ada hajatan desa. Si pemilik tidak harus mengembalikan modal usaha dari pembuatan ‘odong-odong’ tersebut, tetapi wajib menyisihkan 2.5% dari keuntungan operasi ‘odong-odong’ tersebut setiap bulan sebagai zakat produktif pada kotak yang telah disediakan.

Selain kereta ‘odong-odong’, juga terdapat gerobak angkringan dan gerobak mie ayam. Mekanismenya juga sama. Si pemilik tidak wajib mengembalikan modal usaha, tetapi hanya menyisihkan 2.5% dari keuntungannya setiap bulan di kotak yang telah disediakan. Jumlah gerobak angkringan saat ini ada 8 buah yang tersebar di tempat-tempat strategis sehingga penggunaan, pengelolaan, dan dampaknya langsung oleh dan untuk masyarakat Desa Menganti, Sruweng sendiri. Sementara itu, untuk gerobak mie ayam, ada yang sekadar modal gerobak dan ada juga dengan modal usaha awal, tergantung kondisi masyarakat yang akan mengelolanya. Dengan cara demikian, sebenarnya tanpa disadari telah ‘mendidik’ masyarakat untuk berusaha menafkahi keluarga dan berbagai untuk sesama melalui ‘zakat produktif’.

Berawal dari ‘zakat produktif’ 2.5% yang berasal dari unit usaha masyarakat di atas, kemudian digunakan secara subsidi silang untuk membiayai ‘anak binaan’ yang terdiri atas anak usia SD sampai dengan SMA. Penentuan anak binaan ini dilakukan melalui pendataan oleh tim khusus yang bekerja sama dengan kepala desa. Anak-anak tersebut merupakan anak-anak yatim (prioritas), piatu, dan dhuafa. Mereka belum bermukim di satu atap yang sama tetapi masih di rumah masing-masing. Biaya yang ditanggung adalah seluruh kebutuhan sekolah mereka. Pada tahun pelajaran 2019/2020, jumlah anak binaan di Desa Menganti, Sruweng ada sekitar 22 orang.

Selain dari ‘zakat produktif’, pendanaan untuk anak binaan juga diperoleh dari ‘kencleng sodaqoh’ (sekitar 150 buah saat ini) yang tersebar di tempat-tempat strategis, seperti di depan rumah warga, dan atau di depan warung. Dengan demikian, siapa saja dapat mengisi kencleng tersebut kapan saja. Kencleng ini akan dibuka setiap bulan dan disatukan dengan dana dari ‘zakat produktif’ serta dana dari donatur tetap maupun tidak tetap. Cara seperti ini telah menarik masyarakat untuk ‘mencintai’ sodaqoh dan berbagi dengan sesama, terutama anak-anak yang sedang menjalani pendidikan tetapi dalam kondisi yang kekurangan secara finansial untuk meneruskan pendidikan mereka.

Pendanaan yang berputar seperti siklus tersebut telah dapat membangun rumah mukim bagi anak binaan meskipun masih secara bertahap. Rumah mukim ini bertujuan untuk memudahkan koordinasi secara langsung dengan anak binaan. Selain itu, dana yang terkumpul juga diproyeksikan untuk unit-unit usaha baru, sepeti alat tambal ban. Dengan adanya unit-unit usaha baru, maka akan memperbaiki kondisi perekonomian masyarakat desa.

Kegiatan yang diinisiasi oleh seorang kader Muhammadiyah; Slamet Tugiyono dari Desa menganti, Sruweng ini sejalan dengan basis awal pendirian organisasi Muhammadiyah dari tadabur Surat Al-Ma’un seperti yang disampaikan di bagian atas. Muhammadiyah ada dalam helaan nafas sosial untuk menguatkan keberadaan Islam. Muhammadiyah hadir untuk menguatkan umat sehingga Islam menjadi kokoh. Islam tidak kuat dari luar tetapi berawal dari umatnya yang telah kuat secara sosial. Itu sebabnya, kegiatan ini disebut sebagai ‘ceramah sosial aplikatif’ yang pada akhirnya dapat menguatkan organisasi dan Islam. (*)

Dr. E. Putri E. Syafril
Pemerhati Kebudayaan dan Akademisi



(nun)